Kabar Dari Jerman
Pasti kalian pernah mengalami rasa bosan, bosan dengan
rutinitas yang itu itu saja, setiap hari tak ada perbedaan dan hanya jadwal
monoton yang dirasa. Seperti hidup sudah tidak lagi menyenangkan, tidak seru,
malah seperti hidup kita sudah serba lengkap dan intinya males gerak. Yap males
gerak, pasti kalian pernah merasakannya.
Inilah yang disebut zona nyaman, zona nyaman yang jika tak
lekas sadar ia akan mengantar kita ke “Negara pecundang, negara kegagalan,
negara sampah” semua negara ini mungkin cocok untuk kita, jika kita masih saja
bermalas malasan dan mengangap semuanya enteng.
Saya sedang merasakannya sekarang, rutinitas yang sama setiap
hari bahkan berminggu minggu melakukan rutinitas itu itu saja. Muak dan jengah,
apalagi libur kuliah seperti ini.
Meskipun kemarin sudah asik liburan sama teman teman ke
pantai, tapi apalah kalau dompet sudah menipis dan tak bisa kemana mana lagi,
hanya bisa stay di rumah seharian,
bermain laptop, menulis artikel, internetan atau sekedar melihat film sampai
larut malam.
Dan seperti malam malam yang lalu saya mesti sempatkan untuk ngobrol dengan teman teman yang sekarang tah
dimana untuk menghilangkan rasa bosan. Tapi malam itu saya intens untuk mengobrol teman yang paling jauh keberadaanya. Alasannya,
ya untuk menghilangkan rasa bosan saja.
Bukan di Brastagi, Sumatra Utara. Bukan di Sumbawa yang
terkenal akan susu kuda liarnya, bukan di Balikpapan yang terkenal akan pulau
Derawan yang elok. Bukan di Bali, bukan di Sulawesi, bukan di Kalimantan, bukan
di Indonesia. Tapi teman ku yang jauh disana.. di Munster, Jerman. saya membayangkan dia sekarang sedang sibuk untuk mengurus
kepindahannya, menata barang barang di kamarnya, mengkonsep sedemikian rupa
agar kamarnya terlihat bagus atau sekedar menyesuaikan dinginnya suhu minus
khas Jerman. Yah, tak apalah sekali sekali saya mengusik salah satu sahabat ku
itu.
Dari obrolan jarak jauh via BBM saya baru tau, kalau ia
sedang ribut dengan pemilik rumah yang ia tempati, mesin penghangat ruanggannya
mati dan dalam suhu -3. Tak heran jika dalam obrolan kami diselingi umpatannya
karna kedinginan.“Munster?” kota mana itu? Di jerman saya hanya tau beberapa
nama kota saja.
Munich, karna klub sepakbola yang keren ada disana, yaitu
Bayern Munich dan karena Guru Bahasa Jerman ku di SMA berulang kali
menceritakan keindahan tata kota nya, sampai ke detail ratusan souvenir yang ia
dapat. Berulang kali, ya, berulang kali, seperti kaset rusak.
Dortmund, tak jauh dari alasan ku diatas, kota ini saya kenal
dari klub sepakbola yang ada disana. Klub Dortmund yang khas dengan jersey
hitam kuningnya. Berlin, saya kenal kota ini dari buku sejarah dan artikel
yang pernah aku baca, selain menjadi ibu
kota, kota ini menjadi pembatas antara
Jerman Timur dan Jerman Barat dulu saat perang dunia II dan setelah perang
dingin usai tahun 1989, tembok pemisah antara Jerman Barat dan Jerman Timur ini
diruntuhkan.
Dan masih ada beberapa nama kota yang saya kenal, yang jelas
selain “Munster”
Saya menanyakan beberapa hal termasuk pertanyaan klasik “Apa
kabar?”. Lewat “Apa kabar?” saya memulai perbincangan ku dengannya, sudah lama saya tak menyapa dia. maklum baru dua minggu ia pindah ke Jerman, pasti banyak
hal yang mesti ia urus, mulai dari
berkas imigrasi, membuat rekening bank baru, mencari tempat tinggal, dan pasti
masih banyak yang harus ia urus. Katanya “Pindah ke Jerman gak semudah lu
ngorek upil , ribet” .
Itu contoh dari beberapa umpatan yang ia lontarkan dari
obrolan kami minggu kemarin.Tapi malam ini, sepertinya semua urusan sudah ia urus.
Setelah dua minggu, akhirnya saya bisa untuk ngobrol denggannya sekarang, tak
sekedar “apa kabar”.
Dia bilang munster emang kota kecil, tak seperti kota besar
lainnya yang ada di Jerman. saya tanyakan kepadanya apakah tidak ada landmark di kota itu? Sekecilpun tidak
ada?. Dia bilang dia masih ribet, masih belum bisa menyesuaikan dengan tempat
tinggalnya sekarang dan tak banyak tempat tempat yang sudah ia jelajahi.
Saya keukeuh, sibuk
apa sih sampai ia tak bisa menjelajahi kota kecil ?
Dia juga bilang, 2 minggu ia masih stay di tempat
tinggalnya, kalaupun keluar, paling ke kedutaan, berkeliling di kampus barunya
atau keluar untuk mencari makanan. Untuk bersantai dan mengopi seperti yang
kami lakukan di Solo saja ia tidak bisa, sama sekali.
Ia bener bener survive,
bayangkan ia hanya sendirian di benua Eropa. Ia hanya pintar berbahasa Inggris,
tapi untuk bahasa Jerman ia bilang masih belajar. Apa tidak takut kalau ntar
tersesat?. memenuhi kebutuhannya sendiri, mengurus berkas berkas sendiri, makan
sendiri, minum sendiri, tidur sendiri. temannya hanya kedutaan Indonesia, ya
kalau di kedutaan dia diurus, kalau tidak?.
Di obrolan malam itu saya baru tau jika ia belum menemukan
teman di Jerman, dia sendirian disana.
Kami berbicara banyak hal di malam itu, membicarakan kota
munster, kampus barunya, lingkungan disana atau sekedar mendengar umpatan karna
ia kedinginan.
Malam kian larut sementara disana masih sore, Solo dan
Munster selisih 6 jam. Disini jam 11 malam dan disana. Ya kalian taulah..
Saya mulai ngantuk, tapi sebelum saya tidur saya empatkan
memberinya situs menarik yang saya dapatkan 3 hari kemarin saat membaca
harian Jawa Pos. Iya, di couchsurfing kamu bakal ketemu sama banyak teman.
Itu situs pertemanan lintas negara.
Banyak traveler yang terbantu gara gara
situs itu. saya jelaskan secara singkat apa itu couchsurfing.
Kebetulan sekali, Rupanya dia sedang membutuhkan situs
seperti itu. ia amat senang disana, terlihat banyak sekali emot melet dan ketawa yang ia kirimkan
kepadaku. Sementara aku di Indonesia. Lemas dan bosan.
“lu apa kabar?”
“Kabar ku ga baik. saya aku merasa bosan nih.. kenapa iman
seseorang naik turun? dan blab la bla blab la” keluhan ku menyertai
Dia bilang jika saya bosan saya harus backpacker sendirian, seperti yang ia lakukan sekarang. Tidak usah
jauh jauh katanya dan banyak melakukan hal yang belum pernah saya lakukan. Soal
iman yang naik turun ia jawab mungkin karena sholat mu yang bolong bolong.
Iya sih, liburan ini malah sholat subuh ku sering bolong.
Dia suruh saya tuk memperbaikinya dan lekas melakukan suatu hal. Diakhir obrolan ia memberi ku sedikit foto dan meminta ku
tuk cepat menyusul kesana.
Ya Secepetnya saya akan kesana. Setelah mengurus paspor saya bakal kesana, tahun ini saya diajak salah satu teman ku untuk berpergian ke
Thailand. Semoga terealisasi.
Dan mungkin setelah itu, bakal menyusul lu di Jerman. “Kayanya asik ngopi bareng kawan lama di negeri orang”
Ini suasana bus di dalamnya.
Ia bilang ini bus yang sering mengantarnya saat keluar
rumah, sangat tertata yah.. Bersih tertata dengan rapi beda dengan Indonesia.
Ini foto yang diambil dari jendela rumah tempat ia tinggal
Beberapa foto yang dapat mengembalikan mood ku, dia dan saya mempunyai beberapa kesamaan. Sama sama suka foto sembarang, alasannya sama
dengan saya
“aku foto sembarang agar orang yang melihat dapat
menikmatinya seperti ia sedang berada disana”
Kalau foto selfie saya dan dia sama sama tidak suka. Yah
sesimple itu



Komentar
Posting Komentar