Konflik Kelompok Dalam dan Kelompok Luar
Minggu minggu ini, saya disibukkan belajar konflik.
kenapa konflik bisa ada ?
kenapa konflik bisa ada di suatu kelompok ?
kenapa ?
Semuanya terjawab di sesi ceramah minggu lalu, konflik selalu ada dimanapun berada, konflik muncul karena ada sesuatu yang diperjuangkan yang dibelakang itu ia menuntut perubahan. Tapi konflik tak melulu buruk kok, jika kita melihat dengan kacamata positif banyak hal yang bisa kita pelajari.
Konflik kelompok dalam dan kelompok luar membuat kelompok dalam semakin padu, semakin solid. Mengapa ? karena kelompok dalam akan lebih memupuk kerja sama dalam menghadapi persoalan yang ia hadapi, walaupun di dalam kelompok tersebut sangat beragam orang dengan latar belakang yang berbeda beda, tapi adanya konflik dengan kelompok luar membuat semua perbedaan tersebut tidak ada sekatnya, semakin solid seperti saya bilang tadi.
Analogi simple nya seperti ini, di Indonesia banyak sekali klub sepakbola, entah itu Persib, Persebaya, Jakarta atau klub klub lainnya, para suporter dari klub tersebut tentunya mendukung setiap klub saat bermain, mereka sangat bersemangat mendukung klub nya masing masing, sampai sampai ada perkelahian antar suporter baik secara fisik sampai perang di media sosial.
Tapi saat pemain pemain dari semua klub itu bersatu di Tim Nasional, tidak ada yang namanya "perkelahian" satu sama lain seperti halnya saat ia membela klubnya. Mereka bersatu padu, semakin solid membela Tim Nasional (kelompok dalam) menghadapi musuh dari luar (krlompok luar). begitupun suporternya, suporter Bonek, Viking, The Jak tak lagi melihat darimana ia berasal, mereka lupa, yang ada hanya rasa ingin mendukung Tim Nasional Indonesia.
Persoalan seperti inilah yang saya maksud, tidak juga di Timnas Indonesia tapi kita juga bisa melihatnya di sekitar kita, di lingkungan Kampus UKM A bertentangan dengan UKM B, HMP C bertentangan dengan HMP D, BEM Fakultas E bertengangan dengan BEM Fakultas F dan seterusnya.
Hal sebaliknya akan terjadi jika kelompok dalam tidak memiliki konflik dengan kelompok luar, akan terjadi tidak adanya kesolidan di kelompok dalam.
Belajar Sosiologi memang mengasikan, ilmu ilmu yang diajarkan dosen dan yang ada di buku semuanya bisa dipelajari lewat lingkungan ataupun isu isu sosial yang terjadi, tentang kaum proletar (buruh) yang menuntut haknya, tentang komunikasi fashion, tentang kapitalisme, semuanya bisa kita lihat di lingkungan sekitar.
Apalagi ilmu ilmu yang dipelajari di Sosiologi langsung bisa dipraktekan diluar sana, tak perlu memerlukan media seperti stetoskop, ruang kimia untuk penelitian, kertas kanvas, cat atau alat alat lainnya yang diperlukan di fakultas lain. Hanya perlu pemikiran yang kritis dan pendektean yang seksama. ya sesimple itu.
Saya sendiri semakin hari semakin cinta tuk mempelajari Sosiologi.
Komentar
Posting Komentar